KEBAKUAN KATA

SEKEDAR ATAUKAH SEKADAR
Oleh: Imron Rosidi


            Mungkin para pemakai bahasa Indonesia pernah mendengar dua kata yang saling bergantian penggunaannya. Akan tetapi, pemakai bahasa tersebut belum atau tidak mengetahui kata yang manakah yang baku. Kebakuan yang dimaksud adalah kesesuaian dengan kaidah ejaan, lafal, struktur, dan pemakaiannya. Kata tertentu mungkin dianggap berterima dalam situasi tetentu, tetapi tidak gramatikal karena digunakan dalam situasi resmi. Untuk mengetahuinya, marilah kita ikuti penjelasan berikut!
            Bahasa Indonesia mulai ada sejak diikrarkan Sumpah Pemuda, yang salah satu ikrarnya berbunyi menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sejak itulah istilah bahasa Indonesia mulai dikenal dengan berakar pada bahasa Melayu. Saat itu, bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa persatuan, yang salah satu fungsinya digunakan sebagai alat komunikasi antarsuku bangsa. Baru pada tahun 1945, tepatnya 18 Agustus 1945, bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa resmi negara, yang salah satu fungsinya sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
            Anda tentunya pernah mendengar atau munggunakan kalimat Pak, saya pentol yang diucapkan kepada seorang penjual bakso. Kalimat tersebut tidak bermasalah bagi pemakai bahasa tersebut. Kalimat itu berterima dan keduanya saling mengerti. Akan tetapi, kalimat itu tidak baku karena ketidaklogisannya dalam pemakaiannya dalam situasi resmi.             Begitu juga dengan kata-kata merubah, pasen, karer, hakekat, dan sekedar sering kita dengar dalam pemakaian bahasa sehari-hari, tetapi kata-kata tersebut tidak baku karena tidak sesuai dengan kaidah penyerapan dan pembentukan kata.
            Memang, untuk mengetahui kebakuan sebuah kata, pemakai bahasa bisa melihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hanya saja, kita tidak mungkin ke mana-mana membawa KBBI. Kita dapat pula mencari kebakuan kata dengan mengkaji dari proses pembentukannya. Kata merubah berasal dari kata ubah, bukan rubah. Kata rubah berarti salah satu nama jenis benatang (tidak ada keterkaitan morfologis dengan kata mengubah). Karena kata asalnya ubah, setelah mendapat awalan meN- maka yang baku adalah mengubah, bukan merubah. Begitu pula dengan kata mencolok bukan menyolok, mencuci bukan menyuci, ditemukan bukan diketemukan, dan memerkosa bukan memperkosa.
            Bagaimanakah dengan kata sekedar? Kata ini sangat sering kita temukan dalam pemakaian sehari-hari, baik dalam komunikasi nonresmi maupun dalam situasi resmi. Kata ini tampak berterima dan pemakai bahasa Indonesia menganggap kata ini sudah baku. Hanya saja, apabila kita telusuri padanannya, di balik kata sekedar ada kata ala kadarnya yang berarti menurut kekuatannya, bukan ala kedarnya. Dengan demikian, yang baku adalah sekadar yang berarti sesuai atau seperlunya. Begitu juga dengan kata karer tidak baku, yang baku karier, dan hakekat tidak baku, yang baku hakikat dari kata hakiki, bukan hakeke. Bagaimana tanggapan Anda?

0 Response to "KEBAKUAN KATA"

Posting Komentar